
Wujudkan Desa Berkelanjutan & Mandiri dengan Carbon Credit
Membangun masyarakat desa yang sadar lingkungan adalah kunci dalam upaya pelestarian alam dan pengurangan efek gas rumah kaca. Melalui edukasi, pengelolaan sampah berkelanjutan, reboisasi, pertanian berkelanjutan, dan penggunaan energi terbarukan, desa-desa dapat menjadi garda terdepan dalam melawan perubahan iklim.
Jejak Karbon yang Tidak Seimbang:
Beban Kota dan Pengorbanan Desa di Indonesia
Kota-kota besar di Indonesia, seperti Jakarta, Surabaya, dan Bandung, memberikan kontribusi yang sangat besar terhadap jejak karbon nasional. Aktivitas perkotaan yang padat, lalu lintas yang berat, dan industri yang membutuhkan energi tinggi menjadi penyumbang utama emisi gas rumah kaca. Gaya hidup masyarakat perkotaan yang bergantung pada bahan bakar fosil, konsumsi berlebihan, dan limbah yang dihasilkan semakin memperburuk situasi ini. Di sisi lain, masyarakat pedesaan, terutama yang berada di luar Pulau Jawa, justru menjadi korban dari dampak lingkungan yang dihasilkan oleh aktivitas perkotaan. Ironisnya, kawasan pedesaan ini berperan penting dalam mengurangi emisi melalui keberadaan sumber daya alam hijau dan praktik pertanian regeneratif.
Hutan-hutan di Indonesia, seperti di Kalimantan, Sumatra, dan Papua, menjadi penyerap karbon yang sangat penting, membantu menyerap CO₂ dalam jumlah besar dan mengimbangi polusi yang dihasilkan di kota-kota besar. Selain itu, praktik pertanian di desa yang masih banyak menerapkan metode tradisional dan berkelanjutan tidak hanya memenuhi kebutuhan pangan masyarakat perkotaan, tetapi juga menjaga keanekaragaman hayati serta keseimbangan ekologi. Namun, tekanan terhadap wilayah pedesaan semakin besar akibat deforestasi, alih fungsi lahan, dan ekspansi industri yang didorong oleh permintaan dari kota-kota besar. Ketimpangan ini semakin nyata ketika masyarakat pedesaan, yang hanya memberikan kontribusi kecil terhadap emisi, justru menjadi pihak pertama yang merasakan dampak perubahan iklim, seperti cuaca yang tidak menentu dan penurunan hasil panen.
Untuk mengatasi ketidakseimbangan ini, diperlukan pendekatan yang menyeluruh. Kota-kota besar harus bertanggung jawab dengan mengurangi emisi melalui penggunaan energi yang lebih ramah lingkungan, pengelolaan limbah yang lebih baik, dan pengembangan sistem transportasi umum yang efisien. Di sisi lain, wilayah pedesaan harus didukung melalui kebijakan yang mendorong konservasi hutan, pertanian regeneratif, dan pemberian kompensasi yang adil atas jasa ekologis yang mereka sediakan. Dengan mengakui dan menghargai peran penting masyarakat pedesaan, Indonesia dapat menciptakan sistem yang lebih adil dan berkelanjutan. Hanya dengan menjembatani kesenjangan antara kebutuhan kota dan keberlanjutan desa, negara ini dapat mencapai tujuan iklimnya dan memastikan masa depan yang lebih baik bagi semua pihak.