Apa Itu Carbon Offset

Memahami Konsep Mengimbangi Emisi Karbon

Setiap aktivitas manusia menghasilkan emisi gas rumah kaca. Mengendarai kendaraan, menggunakan listrik, melakukan perjalanan dengan pesawat, menjalankan pabrik, membangun gedung, bahkan mengelola sampah dapat menghasilkan emisi karbon.

Idealnya, langkah pertama untuk menghadapi emisi tersebut adalah menghindari dan mengurangi emisi sebanyak mungkin.

Namun, dalam banyak kegiatan, masih terdapat emisi yang sulit dihilangkan sepenuhnya.

Di sinilah konsep Carbon Offset atau kompensasi karbon menjadi relevan.

Secara sederhana, Carbon Offset adalah tindakan menggunakan pengurangan atau penghilangan emisi yang dihasilkan oleh suatu proyek untuk mengimbangi sejumlah emisi yang terjadi di tempat atau kegiatan lain.

Dengan kata lain:

Ada emisi di satu tempat, kemudian ada kegiatan mitigasi di tempat lain yang menghasilkan pengurangan atau penghilangan emisi dalam jumlah yang setara.

Kegiatan mitigasi tersebut dapat menghasilkan Carbon Credit, yang kemudian dapat digunakan dalam mekanisme offset sesuai dengan aturan dan tujuan penggunaannya.


Contoh Sederhana Carbon Offset

Bayangkan sebuah perusahaan menghasilkan emisi:

10.000 ton CO₂e per tahun.

Perusahaan tersebut telah melakukan berbagai upaya untuk mengurangi emisinya, misalnya:

  • menggunakan energi terbarukan;
  • meningkatkan efisiensi energi;
  • mengurangi penggunaan bahan bakar fosil;
  • memperbaiki sistem transportasi; dan
  • mengurangi limbah.

Namun setelah semua upaya tersebut dilakukan, masih terdapat:

2.000 ton CO₂e

yang belum dapat dihilangkan secara teknis atau ekonomis.

Perusahaan kemudian dapat mempertimbangkan penggunaan kredit karbon yang memenuhi persyaratan untuk mengimbangi emisi tersebut.

Misalnya terdapat proyek restorasi mangrove yang menghasilkan kredit karbon terverifikasi.

Jika perusahaan menggunakan sejumlah kredit karbon yang memenuhi persyaratan untuk mengimbangi 2.000 ton CO₂e tersebut, maka kegiatan tersebut merupakan bagian dari mekanisme carbon offsetting.


Carbon Offset Bukan Sekadar Membeli Pohon

Salah satu kesalahpahaman yang sering terjadi adalah menganggap Carbon Offset sama dengan:

"Saya membayar untuk menanam pohon, berarti emisi saya sudah selesai."

Tidak sesederhana itu.

Sebuah kegiatan penanaman pohon belum tentu otomatis menghasilkan Carbon Credit.

Agar dapat digunakan dalam mekanisme karbon, proyek harus memenuhi persyaratan tertentu, termasuk bagaimana jumlah karbon dihitung, bagaimana proyek dipantau, dan bagaimana hasilnya diverifikasi.

Karena itu, dalam ekosistem Carbon Offset terdapat konsep penting seperti:

  • baseline;
  • additionality;
  • monitoring;
  • measurement;
  • reporting;
  • verification;
  • permanence; dan
  • leakage.

Konsep-konsep tersebut akan dibahas lebih lanjut dalam bagian lain HibiCarbon.


Apa Hubungan Carbon Credit dengan Carbon Offset?

Kedua istilah ini sering dianggap sama, padahal sebenarnya berbeda.

Carbon Credit

Carbon Credit adalah unit yang mewakili sejumlah pengurangan, penghindaran, atau penghilangan emisi yang diakui berdasarkan suatu sistem atau standar tertentu.

Secara umum:
1 Carbon Credit = 1 ton CO₂e

Namun, karakteristik, kualitas, penggunaan dan pengakuannya dapat berbeda tergantung pada program, standar dan pasar yang berlaku.

Carbon Offset

Carbon Offset adalah penggunaan kredit karbon atau mekanisme mitigasi tertentu untuk mengimbangi emisi yang dihasilkan oleh suatu aktivitas atau organisasi, sesuai dengan aturan dan tujuan penggunaannya.

Jadi secara sederhana:

Carbon Credit adalah unitnya. Carbon Offset adalah penggunaannya untuk mengimbangi emisi.


Dari Mana Carbon Offset Berasal?

Carbon Offset dapat dikaitkan dengan berbagai jenis proyek mitigasi.

Contohnya:

🌳 Kehutanan

  • perlindungan hutan;
  • restorasi hutan;
  • reforestasi;
  • agroforestri;
  • pengelolaan hutan berkelanjutan.

🌊 Ekosistem Pesisir

  • restorasi mangrove;
  • konservasi ekosistem pesisir;
  • kegiatan blue carbon.

☀️ Energi Terbarukan

  • PLTS;
  • PLTMH;
  • energi angin;
  • biogas.

♻️ Pengelolaan Sampah

  • pengolahan sampah organik;
  • komposting;
  • pemanfaatan biogas;
  • pengurangan emisi metana dari tempat pembuangan sampah.

🏭 Industri

  • efisiensi energi;
  • penggantian bahan bakar;
  • teknologi rendah karbon.

🌱 Pertanian

  • agroforestri;
  • peningkatan karbon tanah;
  • praktik pertanian rendah emisi.

Dengan demikian, Carbon Offset sebenarnya dapat menghubungkan aktivitas ekonomi dengan proyek-proyek mitigasi perubahan iklim.


Mengapa Carbon Offset Dibutuhkan?

Transisi menuju ekonomi rendah karbon tidak dapat dilakukan hanya dengan membeli Carbon Credit.

Yang jauh lebih penting adalah melakukan transformasi terhadap sumber emisi itu sendiri.

Namun beberapa emisi memang sulit dihilangkan dalam jangka pendek.

Misalnya:

  • penerbangan jarak jauh;
  • industri berat;
  • proses industri tertentu;
  • transportasi tertentu;
  • aktivitas yang belum memiliki teknologi rendah karbon yang ekonomis.

Carbon Offset dapat menjadi salah satu instrumen untuk menangani emisi residual, yaitu emisi yang masih tersisa setelah berbagai upaya pengurangan dilakukan.

Karena itu, prinsip yang baik adalah:
Measure → Avoid → Reduce → Replace → Offset Residual Emissions

atau:

Ukur → Hindari → Kurangi → Ganti → Offset emisi yang tersisa.


Apakah Carbon Offset Membuat Perusahaan Menjadi "Net Zero"?

Tidak otomatis.

Ini merupakan hal yang sangat penting untuk dipahami.

Membeli Carbon Credit tidak dengan sendirinya membuat sebuah perusahaan menjadi Net Zero.

Net Zero merupakan konsep yang jauh lebih luas dan membutuhkan pengurangan emisi secara substansial di dalam rantai nilai perusahaan, kemudian menangani emisi yang tersisa dengan mekanisme yang sesuai dengan standar dan klaim yang berlaku.

Karena itu, perusahaan harus berhati-hati dalam menggunakan istilah:

  • Carbon Neutral;
  • Net Zero;
  • Climate Neutral;
  • Carbon Negative; dan
  • Carbon Offset.

Masing-masing memiliki pengertian dan persyaratan yang berbeda.


Apakah Semua Carbon Credit Bisa Digunakan untuk Carbon Offset?

Tidak selalu.

Ini adalah salah satu bagian terpenting dalam memahami pasar karbon.

Sebuah Carbon Credit harus dilihat berdasarkan:

  • siapa yang menerbitkannya;
  • standar yang digunakan;
  • metodologi proyek;
  • bagaimana kredit dihitung;
  • apakah telah diverifikasi;
  • registry yang digunakan;
  • status kredit;apakah sudah digunakan atau di-retire;
  • tujuan penggunaan; dan
  • aturan pasar yang berlaku.

Karena itu, pembeli tidak seharusnya hanya bertanya:

"Berapa harga Carbon Credit?"

Tetapi juga:

"Dari proyek mana Carbon Credit tersebut berasal dan bagaimana kualitas serta integritasnya?"


Apa Itu Carbon Credit Retirement?

Dalam banyak sistem pasar karbon, ketika sebuah Carbon Credit digunakan untuk suatu tujuan offset, kredit tersebut perlu di-retire.

Retirement berarti kredit tersebut secara resmi dikeluarkan dari peredaran sehingga tidak dapat dijual atau digunakan kembali oleh pihak lain.

Konsep ini sangat penting untuk mencegah:

Double Counting

dan

Double Claiming

yaitu situasi ketika manfaat pengurangan emisi yang sama diklaim lebih dari satu kali.


Carbon Offset dan Masyarakat Desa

Carbon Offset juga membuka peluang baru bagi masyarakat desa di Indonesia.

Misalnya sebuah desa memiliki:

  • hutan;
  • lahan terdegradasi;
  • kawasan mangrove;
  • lahan pertanian;
  • potensi energi surya;
  • potensi mikrohidro;
  • sampah organik; atau
  • limbah pertanian.

Jika dikembangkan melalui proyek yang memenuhi persyaratan karbon, kegiatan tersebut berpotensi menghasilkan manfaat mitigasi yang dapat dinilai secara ekonomi.

Dengan demikian, Carbon Offset tidak hanya berbicara mengenai perusahaan besar.

Desa dan masyarakat lokal juga dapat menjadi bagian dari ekonomi karbon.

Inilah salah satu peluang besar Carbon Credit bagi Indonesia.


Carbon Offset dalam Ekonomi Karbon Indonesia

Indonesia memiliki potensi besar dalam pengembangan ekonomi karbon.

Potensi tersebut berasal dari berbagai sektor, antara lain:

kehutanan → pertanian → energi → limbah → industri → ekosistem pesisir.

Namun pengembangan Carbon Offset di Indonesia harus mengikuti kerangka hukum, tata kelola, registrasi, pengukuran, pelaporan dan verifikasi yang berlaku di Indonesia maupun aturan pasar tempat kredit tersebut digunakan.

Karena itu, memahami regulasi Carbon Market Indonesia menjadi sama pentingnya dengan memahami konsep Carbon Credit itu sendiri.


Kesimpulan

Carbon Offset adalah mekanisme untuk mengimbangi emisi yang dihasilkan oleh suatu kegiatan dengan pengurangan, penghindaran atau penghilangan emisi yang dilakukan melalui kegiatan mitigasi lainnya, sesuai dengan aturan dan persyaratan yang berlaku.

Konsep sederhananya adalah:

Aktivitas menghasilkan emisi

Emisi diukur

Emisi dikurangi sebanyak mungkin

Emisi yang masih tersisa dihitung

Kredit karbon yang memenuhi persyaratan digunakan untuk tujuan offset

Kredit di-retire agar tidak digunakan kembali

Namun Carbon Offset bukan pengganti pengurangan emisi.

Tujuan utama tetap:

Menghasilkan emisi sesedikit mungkin.

Carbon Offset menjadi salah satu instrumen untuk menangani emisi yang masih tersisa dan sekaligus memberikan nilai ekonomi kepada proyek-proyek yang menghasilkan manfaat mitigasi perubahan iklim.


Istilah yang Perlu Dipahami

Carbon Credit — unit yang mewakili sejumlah pengurangan, penghindaran atau penghilangan emisi.

Carbon Offset — penggunaan kredit atau manfaat mitigasi untuk mengimbangi emisi tertentu.CO₂e — satuan yang digunakan untuk menyatakan dampak berbagai gas rumah kaca dalam ekuivalen karbon dioksida.

Baseline — kondisi atau skenario yang menjadi dasar perbandingan untuk menentukan manfaat mitigasi suatu proyek.

Additionality — prinsip bahwa pengurangan atau penghilangan emisi dari proyek terjadi karena adanya intervensi proyek dan bukan sesuatu yang akan terjadi secara normal tanpa proyek.

Retirement — proses mengeluarkan Carbon Credit dari peredaran setelah digunakan untuk tujuan tertentu.

Double Counting — situasi ketika pengurangan emisi yang sama dihitung lebih dari satu kali.

Residual Emissions — emisi yang masih tersisa setelah berbagai upaya pengurangan dilakukan.