Apa Itu Net Zero?
Memahami Target Menuju Dunia dengan Emisi Bersih Nol
Istilah Net Zero semakin sering kita dengar.Pemerintah menetapkan target Net Zero.
Perusahaan mengumumkan komitmen Net Zero.
Bank dan investor memasukkan Net Zero dalam strategi pembiayaan.
Bahkan kota, universitas, dan organisasi masyarakat mulai menetapkan target Net Zero.
Tetapi sebenarnya:
Apakah Net Zero berarti tidak menghasilkan emisi sama sekali?
Apakah perusahaan cukup membeli Carbon Credit untuk menjadi Net Zero?
Apakah Net Zero sama dengan Carbon Neutral?
Jawabannya: tidak sesederhana itu.
Secara umum, Net Zero berarti mencapai kondisi ketika emisi gas rumah kaca (GRK) yang tersisa diseimbangkan dengan penghilangan emisi dari atmosfer dalam batas dan periode tertentu. ISO Net Zero Guidelines mendefinisikan Net Zero sebagai kondisi ketika emisi GRK residual yang disebabkan manusia diseimbangkan oleh penghilangan GRK oleh manusia. (ISO)
Dengan kata lain:
1. Net Zero Bukan Berarti Zero Emission
Ini adalah kesalahpahaman pertama yang perlu diluruskan.
Bayangkan sebuah perusahaan menghasilkan:
100.000 ton CO₂e/tahun
Perusahaan kemudian melakukan berbagai program:
Setelah semua upaya tersebut, emisi berhasil turun menjadi:
10.000 ton CO₂e/tahun
Perusahaan belum mencapai zero emissions, karena masih menghasilkan 10.000 ton.
Tetapi jika emisi residual tersebut dapat ditangani melalui carbon removal yang memenuhi persyaratan yang relevan, maka secara konseptual perusahaan dapat mencapai kondisi:
Emisi yang tersisa = Removal
Sehingga:
Net Emissions = 0
Inilah konsep dasar Net Zero.
2. Rumus Sederhana Net Zero
Untuk mempermudah:
Misalnya:
Gross Emissions = 100.000 tCO₂e
dan setelah melakukan pengurangan emisi, perusahaan masih memiliki:
Residual Emissions = 10.000 tCO₂e
Kemudian terdapat:
Carbon Removal = 10.000 tCO₂e
Maka:
10.000 − 10.000 = 0 tCO₂e
Secara sederhana:
Net Zero = Residual Emissions − Carbon Removals = 0
Tetapi perlu dicatat: dalam praktik, pengakuan klaim Net Zero tidak hanya ditentukan oleh rumus matematis tersebut. Ada persyaratan mengenai batas emisi, target pengurangan, jenis removals, kualitas kredit, pelaporan, dan tata kelola.
3. Prinsip Utama Net Zero: Reduce First
Inilah prinsip yang sangat penting.
Net Zero bukan:
Pendekatan yang lebih kredibel adalah:
MEASURE
↓
Ukur emisi
↓
AVOID
↓
Hindari emisi yang tidak diperlukan
↓
REDUCE
↓
Kurangi emisi secara signifikan
↓
REPLACE
↓
Ganti teknologi dan energi dengan alternatif rendah karbon
↓
REMOVE
↓
Hilangkan emisi residual melalui Carbon Removal yang sesuai
↓
NET ZERO
Prinsip ini sering disebut sebagai mitigation hierarchy.
Dalam kerangka SBTi, pencapaian Net Zero korporasi menempatkan pengurangan emisi di dalam rantai nilai sebagai prioritas, sementara emisi residual perlu dinetralisasi melalui pendekatan yang sesuai.
4. Mengapa Kita Tidak Bisa Menghilangkan Semua Emisi?
Secara teori, kita tentu ingin mencapai:
Zero Emission
Tetapi dalam praktiknya, beberapa aktivitas mungkin masih menghasilkan emisi.
Contohnya:
Sebagian emisi tersebut sulit dihilangkan dengan teknologi yang tersedia saat ini.
Emisi yang masih tersisa setelah upaya pengurangan maksimal disebut:
Residual Emissions
Karena itu, strategi Net Zero tidak hanya berbicara mengenai dekarbonisasi, tetapi juga mengenai bagaimana menangani emisi residual tersebut.
5. Apa Hubungan Net Zero dengan Carbon Removal?
Hubungannya sangat erat.
Bayangkan:
Perusahaan
100.000 tCO₂e
↓
Dekarbonisasi
90.000 tCO₂e berhasil dikurangi
↓
Residual
10.000 tCO₂e
↓
Carbon Removal
10.000 tCO₂e
↓
Net Zero
Dalam kerangka SBTi, pendekatan korporasi Net Zero mengharuskan perusahaan mengurangi emisi Scope 1, 2, dan 3 ke tingkat residual yang konsisten dengan jalur Net Zero, kemudian menetralkan emisi residual tersebut. (Science Based Targets Initiative)
Ini menjelaskan mengapa artikel Carbon Removal yang kita bahas sebelumnya sangat penting untuk memahami Net Zero.
6. Apakah Membeli Carbon Credit Bisa Membuat Perusahaan Net Zero?
Tidak otomatis.
Ini merupakan salah satu pesan paling.
Misalnya:
Sebuah perusahaan menghasilkan:
100.000 tCO₂e
Kemudian perusahaan membeli:
100.000 Carbon Credit
Secara matematis memang terlihat:
100.000 − 100.000 = 0
Tetapi hal tersebut tidak otomatis berarti perusahaan telah mencapai Net Zero.
Mengapa?
Karena Net Zero bukan hanya persoalan menyeimbangkan angka.
Perusahaan juga perlu melakukan pengurangan emisi yang substansial, menetapkan target yang kredibel, mengukur seluruh emisi yang relevan, serta mengikuti persyaratan klaim atau standar yang digunakan.
SBTi, misalnya, menekankan pengurangan emisi dalam rantai nilai dan menetapkan pendekatan khusus untuk penanganan emisi residual. (Science Based Targets Initiative)
7. Net Zero vs Carbon Neutral
Kedua istilah ini juga sering dianggap sama.
Padahal terdapat perbedaan konsep.
Carbon Neutral
Secara sederhana berfokus pada menyeimbangkan emisi dengan pengurangan atau penghilangan emisi di tempat lain, sesuai standar dan aturan klaim yang digunakan.
Net Zero
Memiliki tuntutan yang lebih luas terhadap pengurangan emisi secara mendalam, kemudian menangani emisi residual yang tersisa.
Dengan demikian:
Carbon Neutral tidak otomatis sama dengan Net Zero.
Net Zero merupakan perjalanan transformasi menuju ekonomi rendah emisi, bukan sekadar transaksi Carbon Credit.
ISO juga membedakan konsep Net Zero, removals, offsetting, credits dan claims dalam Net Zero Guidelines-nya. (ISO)
8. Net Zero vs Carbon Negative
Kalau Net Zero berarti:
Emisi = Removalmaka secara sederhana Carbon Negative berarti:
Removal > Emissions
Contohnya:
Emisi perusahaan:
100.000 tCO₂e
Carbon Removal:
120.000 tCO₂e
Maka secara matematis:
100.000 − 120.000 = −20.000 tCO₂e
Perusahaan memiliki net removal sebesar 20.000 tCO₂e.Namun istilah seperti carbon negative atau klaim serupa tetap harus digunakan secara hati-hati karena makna dan persyaratan klaim dapat berbeda menurut standar atau konteksnya.
9. Net Zero vs Climate Positive
Istilah Climate Positive bahkan lebih jauh lagi.
Secara konseptual:
Dampak mitigasi positif > emisi yang dihasilkan
Artinya organisasi memberikan kontribusi pengurangan atau penghilangan emisi yang lebih besar daripada emisi yang dihasilkan.
Namun istilah ini dapat digunakan dengan cara yang berbeda-beda dalam praktik bisnis.
Karena itu, perusahaan sebaiknya tidak sekadar menggunakan istilah yang terdengar positif, tetapi menjelaskan:
10. Memahami Empat Istilah Ini
11. Net Zero dan Scope 1, 2, dan 3
Untuk perusahaan, Net Zero tidak cukup hanya menghitung emisi dari kantor.
Emisi perusahaan umumnya dibagi menjadi:
Scope 1
Emisi langsung dari sumber yang dimiliki atau dikendalikan perusahaan.
Contohnya:
Scope 2
Emisi tidak langsung dari energi yang dibeli.
Contohnya:
listrik yang dibeli dari jaringan listrik.
Scope 3
Emisi tidak langsung lainnya dalam rantai nilai.
Misalnya:
Karena itu, perusahaan yang ingin serius menuju Net Zero perlu melihat seluruh rantai nilai, bukan hanya emisi dari gedung kantornya.
SBTi Corporate Net-Zero Standard secara khusus mencakup target untuk Scope 1, 2 dan 3. (Science Based Targets Initiative)
12. Net Zero Adalah Perjalanan, Bukan Satu Transaksi
Net Zero sebaiknya dipahami sebagai sebuah transition journey.
Misalnya:
Tahun 2026
Emisi:
100.000 tCO₂e
↓
Tahun 2030
Emisi turun menjadi:
70.000 tCO₂e
↓
Tahun 2040
Emisi turun menjadi:
30.000 tCO₂e
↓
Target Net Zero
Residual emissions:
10.000 tCO₂e
↓
Carbon Removal:
10.000 tCO₂e
↓
NET ZERO
Perusahaan tidak menunggu sampai tahun target untuk mulai bertindak.
Justru pengurangan emisi harus dimulai sekarang.
13. Net Zero dan Target 2050
Net Zero juga terkait dengan upaya global membatasi perubahan iklim.ISO Net Zero Guidelines memberikan kerangka umum bagi organisasi untuk mencapai Net Zero selambat-lambatnya 2050, sekaligus menekankan target antara, pengurangan emisi dalam value chain, removals, transparansi dan pelaporan. (ISO)
Untuk perusahaan, target tahun saja tidak cukup.
Misalnya:
Pertanyaan berikutnya adalah:
Bagaimana?
Berapa pengurangan emisi pada:
2030?
2035?
2040?
2045?
Apa yang akan dilakukan terhadap emisi residual?
Bagaimana progresnya dilaporkan?
Itulah yang membuat sebuah komitmen Net Zero menjadi lebih kredibel.
14. Net Zero dalam Perspektif Indonesia
Indonesia juga memiliki agenda menuju emisi rendah karbon dan Net Zero.Hal ini menciptakan kebutuhan terhadap:
Di sinilah Carbon Credit dapat menjadi salah satu bagian dari ekosistem ekonomi karbon.
Namun Carbon Credit sebaiknya dilihat sebagai instrumen dalam perjalanan menuju dekarbonisasi, bukan sebagai pengganti transformasi ekonomi.
15. Peluang Net Zero bagi Desa
Konsep Net Zero sebenarnya tidak hanya untuk perusahaan besar.Desa juga dapat mengembangkan Low Carbon / Net Zero Village.Bayangkan sebuah desa melakukan:
Hutan dan AgroforestriMeningkatkan carbon stock. Energi SuryaMengurangi penggunaan energi fosil. MikrohidroMenghasilkan listrik terbarukan. KomposMengelola sampah organik. MaggotMengubah limbah organik menjadi sumber pakan dan produk ekonomi. Pertanian RegeneratifMeningkatkan kesehatan tanah dan potensi penyimpanan karbon. BiocharMengubah sebagian biomassa menjadi karbon yang lebih stabil.
Semua kegiatan tersebut dapat menjadi bagian dari strategi:
dan sebagian kegiatan berpotensi dikembangkan menjadi Carbon Project apabila memenuhi metodologi dan persyaratan pasar karbon yang relevan.
Ini sangat sejalan dengan konsep yang sedang dikembangkan Hijau Biru Carbon mengenai Carbon Credit Desa.
16. Net Zero dan Carbon Credit Desa
Bayangkan sebuah desa memiliki:
Emisi
Kemudian desa melakukan:
Pengurangan
Dan:
Carbon Removal
Maka desa dapat mulai membangun:
Village Carbon Balance
Total Emisi Desa
−
Emission Reduction
−
Carbon Removal
=
Net Emissions Desa
Ini merupakan konsep yang sangat menarik untuk dikembangkan menjadi salah satu program gagasan Hijau Biru Carbon:
17. Bagaimana Cara Sebuah Perusahaan Memulai Perjalanan Net Zero?
Secara sederhana, ada beberapa tahap.
STEP 1 — Measure
Hitung seluruh emisi.
Berapa tCO₂e?
↓
STEP 2 — Map
Identifikasi sumber emisi terbesar.
↓
STEP 3 — Reduce
Kurangi emisi dari sumbernya.
↓
STEP 4 — Transition
Gunakan teknologi dan energi rendah karbon.
↓
STEP 5 — Set Targets
Tetapkan target jangka pendek dan jangka panjang.
↓
STEP 6 — Monitor
Pantau perkembangan setiap tahun.
↓
STEP 7 — Address Residual EmissionsTangani emisi yang benar-benar tersisa.
↓
STEP 8 — Report & Claim
Laporkan secara transparan dan gunakan klaim sesuai standar yang relevan.
SBTi saat ini memiliki Corporate Net-Zero Standard Version 2.0, yang diterbitkan pada Juni 2026 dan akan mulai tersedia untuk pengajuan target baru pada 2027; selama 2026, SBTi menyatakan Version 1.3.1 masih merupakan kerangka yang berlaku untuk validasi target.
18. Kesalahan yang Sering Terjadi
19. Prinsip Sederhana Net Zero
Jika ingin menjelaskan Net Zero kepada masyarakat dalam satu kalimat:
Kesimpulan
Net Zero adalah kondisi ketika emisi gas rumah kaca residual yang dihasilkan manusia diseimbangkan dengan penghilangan emisi dari atmosfer dalam batas dan periode tertentu.
Tetapi perjalanan menuju Net Zero dimulai bukan dengan membeli Carbon Credit.
Melainkan dengan:
Atau secara sederhana:
REDUCE FIRST
REMOVE WHAT REMAINS
THEN REACH NET ZERO
Carbon Credit dapat menjadi salah satu instrumen dalam perjalanan tersebut, tetapi tidak boleh menjadi alasan untuk menunda pengurangan emisi.
Net Zero
Kondisi ketika emisi GRK residual diseimbangkan dengan penghilangan emisi dalam batas dan periode tertentu.
Residual Emissions
Emisi yang masih tersisa setelah berbagai upaya pengurangan dilakukan.
Decarbonization
Proses mengurangi intensitas dan jumlah emisi GRK dari kegiatan ekonomi.
Carbon Neutral
Istilah yang digunakan untuk menggambarkan kondisi atau klaim ketika emisi yang dihitung diseimbangkan melalui mekanisme yang sesuai; definisi dan persyaratannya bergantung pada standar/konteks yang digunakan.
Carbon Negative
Secara konseptual, kondisi ketika penghilangan emisi melebihi emisi yang dihasilkan.
Carbon Removal
Penghilangan CO₂ dari atmosfer dan penyimpanannya dalam reservoir tertentu.
Net Zero Target
Target waktu dan jalur yang ditetapkan organisasi untuk mencapai kondisi Net Zero.
Decarbonization Pathway
Jalur atau strategi pengurangan emisi dari kondisi saat ini menuju target emisi yang jauh lebih rendah.
